Alamat :
Jalan Tarumanegara No 100 Rt. 01 Rw. 09 Cirendeu Ciputat Tangerang Banten 15491
Telp: 021 7419008
a Short History of Asrama Syaikh Arsyad al-Banjary
oleh: Ali Muammar Z.A., S.SI.
Sewaktu kuliah di UIN Jakarta, di penghujung usia akademik (sekitar tahun 2005), saya bersama teman-teman Kerukunan Keluarga Mahasiswa Banjar (Kakamban) Jakarta saat itu sering mengadakan pertemuan. Dan saya –meski tidak lagi sebagai pengurus– masih sering ikutan nimbrung. Selain karena tempat berkumpulnya di kontrakan saya, juga karena sedikitnya jumlah anggota Kakamban. Karena itulah, kehadiran satu orang sangat berarti. Ini juga merupakan gambaran betapa minat warga Kal-Sel yang ingin menimba ilmu di Jakarta, khususnya di Ciputat sangatlah kurang. Sehingga ketika kumpul-kumpul pun yang hadir sangat minim. Pertemuan kami biasanya bertemakan hal-hal yang ringan. Seperti rujak party, bakar ayam, masak-masak hingga bahabsyian. Biasanya – meski tidak selalu– diawali dengan pembicaraan upaya pengadaan asrama untuk mahasiswa Banjar di Ciputat. Dan sebetulnya, upaya tersebut sudah dilakukan semenjak saya baru datang ke Jakarta pada pertengahan tahun 2000, bahkan semenjak sebelum-sebelum itu. Namun karena tidak pernah direspon oleh pemda, maka sebagian kami sempat bersikap apatis. Nah, pada tahun 2005, teman-teman pengurus (baru) kembali antusias dalam melanjutkan perjuangan yang sudah loyo. Agenda kumpul semakin meningkat, dan di saat yang sama respon tidak menuai hasil. Namun kalau jodoh, takkan kemana, kata orang. Kamipun mendapat angin segar dengan hadirnya Pak Abduh Amrie.
Beliau adalah putra daerah yang memiliki banyak relasi, terutama di jalur Pemda, bahkan beliau kenal dengan bapak Gubernur. Kebetulan beliau sedang tugas belajar dari IAIN Antasari untuk menempuh jenjang S2. Para pengurus yang saat itu dikomandoi oleh Erwin Septiyadi, masih sering berkumpul. Hingga pengurus berganti dan dipimpin oleh Rasyidi. Saat itu saya masih skeptis, meskipun selalu mendoakan, sebab di samping sudah pindah ke Depok, saya juga bekerja pada penerbitan buku yang selalu membuat kondisi saya berpikir “deadline”. Jadi tidak sempat memikirkan yang lain. Hingga suatu ketika, saya bertemu dengan Ust. M. Arifin Ilham di acara pernikahan teman saya Syauqi Mubarak. Kebetulan saya menjadi qori dan Ust. Arifin yang menjadi jubir rombongan mempelai pria. Karena saya pakai baju sasirangan, otomatis mengundang pertanyaan asisten beliau.
“Ikam urang banjarkah?” kata asisten (namanya paman Ghafar) beliau.
“Inggih, ulun urang banjar”
Begitulah awalnya, kami lalu ngobrol panjang lebar, dan saya lebih banyak bercerita tentang komunitas mahasiswa Banjar yang ada di Ciputat. Hingga akhirnya saya diberi alamat dan nomor kontak. Ust. Arifin juga bersedia membantu teman-teman mahasiswa Banjar jika suatu saat dibutuhkan. Saya sangat terharu dengan respon baik dari beliau yang sangat mengerti keadaan para mahasiswa. Bahkan beliau mengusulkan agar kami membuat proposal bantuan ke Pemda Kal-Sel dan beliau siap menandatangani (meskipun saat itu teman-teman Kakamban sudah mengajukan proposal pengadaan asrama).
Akhirnya hal tersebut saya sampaikan kepada teman-teman di Ciputat. Dan pada hari selasa tanggal 8 Agustus 2006 sekitar pukul 2 siang, kamipun sepakat untuk bersilaturrahmi ke tempat beliau sekaligus meminta tanda tangan dan mendaulat beliau menjadi pelindung kakamban. Kebetulan, seminggu setelah itu, Ust. Arifin akan ke Banjarmasin dan bertemu dengan bapak Gubernur dalam rangka acara dzikir akbar di mesjid Jami’ Banjarmasin. Di penghujung tahun 2006, saya pulang kampung untuk urusan pribadi sekaligus berhari raya Idul Adha. Namun ketika saya hendak kembali lagi ke Jakarta pada pertengahan Januari 2007, pak Abduh Amrie menghubungi saya, dan mengajak saya untuk mengajukan ulang proposal pengadaan asrama. Beliau juga minta tolong untuk membantu merevisi proposal serta melengkapi data-data yang kurang. Setelah semua selesai, kamipun berangkat ke kantor Gubernur. Tapi sesampai di sana pak gubernur dan wagub ternyata sedang ke Banjarbaru mengikuti sebuah acara. Akhirnya, proposal kami titipkan di sekda, itupun melalui ajudannya. (Oiya, waktu itu di luar sedang ada demo para veteran pejuang kemerdekaan yang menuntut kesejahteraan mereka). Lalu kami ke kantor pemda untuk menyodorkan proposal melalui bagian sosial, dan itupun hanya dititipkan kepada orang lain karena para pejabat bersangkutan sudah pulang. Kami maklum, sebab waktu sudah meniti sore. Saya kira perjuangan sudah selesai, eh ternyata pak Abduh mengajak memasukkan proposal ke kantor DPRD I. Dan lagi-lagi, kami hanya bisa menitipkan, yang ini melalui satpam di situ. Beberapa bulan kemudian, ternyata proposal kami direspon oleh pemda dan dimusyawarahkan di DPRD tk I. Setelah melalui sidang di beberapa komisi, pada pertengahan 2007, sekitar bulan Juni, pemda melalui biro umumnya, menghubungi Erwin –karena contact personnya masih atas nama dia– yang langsung menghubungi Syafruddin, dan karena kami tidak memiliki wadah untuk berkumpul, lalu diputuskan untuk bertemu di tempat saya kerja (warnet x-zellon).
Sejak saat itu, proses pembelian rumah yang akan dijadikan asramapun berangsur-angsur menemui kata sepakat, meskipun sempat ada insiden yang nyaris membuat transaksi batal. Ini adalah kerja keras warga kakamban yang betul-betul ingin memperjuangkan hak mahasiswa yang sudah lama terabaikan. Bukan karena kerja keras satu-dua orang saja, tapi seluruh kawan-kawan mahasiswa ataupun mahasiswi, sekecil apapun kontribusinya.
Saya –atas nama ketua Asrama Mahasiswa Kal-Sel– ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Ust. M. Arifin Ilham yang sudi menjadi pelindung sekaligus “negosiator” pengadaan asrama mahasiswa Kal-Sel, Pak Prof. Dr. Artani Hasbi yang sudi mendengarkan keluh kesah dan membimbing kami, Pak M. Abduh Amri, MA yang rela berjibaku demi masa depan kaum akademis Banjar-Ciputat yang tak pernah “dianggap” sebelumnya, serta kawan-kawan mahasiswa seluruhnya, baik yang –pada akhirnya– tidak ikut “menikmati” kenyamanan asrama, maupun yang saat ini berada di asrama, dan ini adalah keberhasilan masyarakat mahasiswa Banjar seluruhnya. Last but not least, terima kasih juga kepada Gubernur Kal-Sel, Bpk H. Rudy Ariffin, MM. yang menerima aspirasi kami ini dan berkenan meresmikannya pada tanggal 7 Juli 2008 yang lalu. Semoga keberadaan asrama ini menjadi stimulus bagi adik-adik kita kelak untuk mau memanfaatkannya dalam konteks menimba ilmu dan membangun banua.

maju terus demi kemajuan putera Banjar … I love you Full … ha ha ha …
Top markotop. Terimakasih. Mohon maaf belum silaturahmi ke tempat Sampeyan.
asalamulaikum…umpat lalu nach..
Wa’alikumussalam,
Silahkan.. Dengan senang hati
mun sampat bajalanan ksana nah.. boleh aja kalo mang?
Alhamdulillah.. Silahkan, Mang.