Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam Konteks Kajian Alquran Nusantara

Oleh: Fathullah Munadi, MA.*

Abstrak**

Tesis ini menunjukkan bahwa kajian Alquran berada dalam kajian Islam pragmatis dalam sejarah keislaman Nusantara, sehingga kajian Alquran dapat muncul bersamaan atau tidak terlalu jauh dari kedatangan Islam itu sendiri.

Kesimpulan tersebut di atas memperkuat kesimpulan penelitian sebelumnya yang dilakukan A.H. Johns dalam “Quranic Exegesis in Malay World; In Search of a Profile” dan penelitian Nashruddin Baidan dalam “Perkembangan Tafsir Al-Quran di Indonesia” bahwa penafsiran telah ada sejak kemunculan Islam.

Kesimpulan di atas dimunculkan untuk mengkritisi tesis tentang lamanya waktu gap antara Islamisasi dan perkembangan kajian Alquran di Nusantara, seperti yang dikembangkan oleh Peter Riddell dalam “Earlist Quranic Exegetical Activity in Malay-Speaking States,” yang mengatakan terjadi gap hingga 3 abad. Tesis ini juga membantah tesis Wawan Djunaedi yang menyatakan bahwa qiraat mulai dikembangkan hanya di akhir abad ke-19. Lanjut membaca

Banking for the Poor

Abstract
Purpose – The main purpose of this paper is to review the microfinance scheme and discuss how Islamic banks can participate in such an endeavour without actually compromising the issue of institutional viability and sustainability.

Design/methodology/approach – The paper is based on an extensive review of microfinance with the objective of building a case for Islamic banking to participate in a microfinance initiative. Findings – As reviewed in this paper, microfinance requires innovative approaches beyond the traditional financial intermediary role. Among others, building human capacity through social intermediation and designing group-based lending programmes are proven to be among the effective tools to reduce transaction costs and lower exposure to numerous financial risks in relation to providing credit to the rural poor.

This paper also suggests the use of a special purpose vehicle (SPV) as one of the possible alternatives for Islamic banks channelling funds to the poor. Lanjut membaca

Pembelajaran Perempuan dalam Islam

Drs. Ruslan, M.Ag.

A. Potensi Manusia Secara Umum
Manusia -dengan tanpa membedakan jenis kelamin- adalah makhluk Allah yang istemewa dibanding makhluk-makhluk lain, baik dilihat secara pisik atau psikis (khalqan wa khuluqan). Secara pisik manusia berbeda dengan binatang karena ia berjalan tegak lurus dan di kelapanya ada otak dengan istrumen-instrumennya yang berbeda dengan otak binatang. Secara psikis (jiwa), manusia memiliki kecenderungan beragama atau dapat membedakan baik dan buruk. Di bawah skenario Tuhan, manusia diprogram menjadi khalifah Tuhan di bumi. Sejak awal dia diberi potensi untuk mengenal simbol-simbol yang ada di bumi melewati belajar. Firman Allah dalam surah Al-Baqarah: 31:

Lanjut membaca