Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam Konteks Kajian Alquran Nusantara

Oleh: Fathullah Munadi, MA.*

Abstrak**

Tesis ini menunjukkan bahwa kajian Alquran berada dalam kajian Islam pragmatis dalam sejarah keislaman Nusantara, sehingga kajian Alquran dapat muncul bersamaan atau tidak terlalu jauh dari kedatangan Islam itu sendiri.

Kesimpulan tersebut di atas memperkuat kesimpulan penelitian sebelumnya yang dilakukan A.H. Johns dalam “Quranic Exegesis in Malay World; In Search of a Profile” dan penelitian Nashruddin Baidan dalam “Perkembangan Tafsir Al-Quran di Indonesia” bahwa penafsiran telah ada sejak kemunculan Islam.

Kesimpulan di atas dimunculkan untuk mengkritisi tesis tentang lamanya waktu gap antara Islamisasi dan perkembangan kajian Alquran di Nusantara, seperti yang dikembangkan oleh Peter Riddell dalam “Earlist Quranic Exegetical Activity in Malay-Speaking States,” yang mengatakan terjadi gap hingga 3 abad. Tesis ini juga membantah tesis Wawan Djunaedi yang menyatakan bahwa qiraat mulai dikembangkan hanya di akhir abad ke-19. Lanjut membaca

Akhirnya ‘Step by Step’

Ciputat (11/04/10). Pasca Rapim tanggal 7 Maret 2010 yang lalu di Krespe Kreme Pondok Indah Mall, beberapa item kesepakatan Rapim dapat diwujudkan, di antaranya adalah semi-sosialisasi draf tata tertib anggota dan tamu AMKS Syekh M Arsyad al-Banjari (SMAA), penetapan tatib, dan rapat dengar pendapat (rapat anggota). Tapi seperti diduga, semua tak semudah yang dibayangkan karena ada saja “dinamika” dalam seluruh proses revitalisasi internal tersebut.

Seperti ketika akan melaksanakan zona smoking area, pengurus asrama harus melakukan pendekatan yang agak unik yaitu dengan terlebih dahulu memasang ‘stiker smoking area’ di tempat-tempat tertentu tapi tidak membuat stiker ‘no smoking area’. Ada kesan pendekatan ini tidak tegas, namun strategi kanalisasi ini dibuat agar ‘ahli hisab’ tak hanya merasa –secara implisit–dilarang, tapi juga diberikan solusi dan penyaluran. Harapannya, agar resistensi yang jika mungkin timbul, tidak terlalu frontal. Toh itu juga kan berarti perhatian pengurus terhadap ‘ahli hisab’, cukup besar. Lanjut membaca

Dari Ciputat hingga Paris van Java

Dari Sabtu hingga Senin (20-22/2/10), AMKS Syekh Muhammad Arsyad mengadakan perjalanan ke Bogor dan Bandung. Selain menikmati keindahan alam, sembari menggeber motor masing-masing, di kedua tempat itu rombongan menyambangi dua asrama mahasiswa Kalsel.

Dalam silaturahmi ini, terungkap beberapa perbedaan dan persamaan pengelolaan asrama di masing-masing daerah. Beberapa perbedaan di antaranya adalah di masing masing AMKS Bogor dan Bandung, logistik sehari-hari tidak (sepenuhnya) disiapkan oleh pembantu. Lebih spesifik, di AMKS Bogor, para anggota AMKS hanya patungan untuk beli beras untuk kemudian dimasak oleh pembantu. Sementara anggota AMKS Bandung, sepenuhnya makan di luar Asrama. Untungnya di daerah sekitar AMKS Bandung yang bernama Demang Lehman itu ditemukan cukup banyak kuliner. Sedangkan untuk AMKS Syekh M Arsyad, karena keberadaan warung makan agak jauh, makan sehari-hari disiapkan oleh pembantu.
Lanjut membaca

Banking for the Poor

Abstract
Purpose – The main purpose of this paper is to review the microfinance scheme and discuss how Islamic banks can participate in such an endeavour without actually compromising the issue of institutional viability and sustainability.

Design/methodology/approach – The paper is based on an extensive review of microfinance with the objective of building a case for Islamic banking to participate in a microfinance initiative. Findings – As reviewed in this paper, microfinance requires innovative approaches beyond the traditional financial intermediary role. Among others, building human capacity through social intermediation and designing group-based lending programmes are proven to be among the effective tools to reduce transaction costs and lower exposure to numerous financial risks in relation to providing credit to the rural poor.

This paper also suggests the use of a special purpose vehicle (SPV) as one of the possible alternatives for Islamic banks channelling funds to the poor. Lanjut membaca